PEMERINTAH DESA MERDEN
KECAMATAN Purwanegara
KABUPATEN Banjarnegara
Potensi Desa 
Foto

Beberapa potensi sumberdaya alam (SDA) desa yang dapat menjadi modal dasar pembangunan ekonomi  desa Asinan dalam kurun waktu 6 (enam) tahun mendatang antara lain:

a. Sumber daya alam berupa lahan sawah 10 ha dan tegal pekarangan kebun 168 ha. Sumberdaya ini merupakan aset desa yang sangat potensial untuk pengembangan usaha agribisnis yang dapat menyerap tenaga kerja banyak (padat karya) dalam rangka mengendalikan pengangguran dan menjaga stabilitas perekonomian desa.  Sebagai sektor primer, usaha agribisnis telah banyak dilakoni oleh warga desa dan masih terdapat potensi yang cukup besar untuk dikembangkan.  Potensi pengembangan usaha ternak ruminansia misalnya (seperti sapi,kambing, kelinci) masih sangat besar  dimana untuk 1 ha lahan memiliki daya dukung 1500 kg animal unit jika dikembangkan dengan teknologi STS (sistem tiga strara).   Artinya sebagai contoh: dalam satu hektar lahan yang dikelola dengan teknologi STS dapat mendukung usaha ternak sapi 4 ekor, kambing 8 ekor, dan kelinci 10 ekor. Dari data ternak yang tersedia nampak bahwa potensi ini baru tergarap sekitar 50%, dan masih ada peluang 50% untuk pengembangan usaha ternak ruminansia. Demikian juga untuk jenis usaha ternak yang lain seperti ternak babi dan unggas ( itik, ayam buras dan ras dapat diintegrasikan dengan usaha lain di lahan tegalan pekarangan dan kebun . Oleh karenanya lahan ini mesti dijaga untuk tidak mengalami alih fungsi secara ekstrim yang dapat merampas hak warga banyak untuk berusaha secara ekonomi kerakyatan.   Sumberdaya alam ini juga dapat dikemas menjadi suatu atraksi wisata yang menarik untuk pengembangan usaha kepariwisataan pertanian.  Jumlah tenaga kerja yang menekuni  kegiatan bidang pertanian termasuk kelompok buruh tani sebesar 62% dari tenaga kerja desa.

b. Sumberdaya alam berupa jenis tanaman unggulan desa.  Memperhatikan pola tata ruang RT RW Kabupaten Banjarnegara dimana desa Asinan masuk di dalam kawasan konservasi dan resapan air, maka warga desa telah sejak lama mengusahakan jenis-jenis tanaman konservasi yang memiliki potensi ekonomi dan menjadi tanaman unggulan desa.  Jenis-jenis tanaman tersebut adalah:  kelapa, kakao, pisang, nanas, aren, nangka dan buah-buahan lainnya serta beragam kayu hutan.  Hasil tanaman tersebut memili nilai ekonomi tinggi dan juga dapat diolah menjadi produk sekunder untuk memperoleh nilai tambah yang berguna bagi peningkatan pendapatan keluarga.  Kelapa merupakan tanaman unggulan dengan tingkat hasil paling tinggi di bidang usaha tani, diikuti oleh usaha tani pisang, usaha tani padi dan jagung serta kacang tanah

c. Sumberdaya alam berupa ternak unggulan desa.  Usaha budidaya ternak seperti: sapi, kambing, ayam buras dan ras, itik, dan lainnya masih cukup mampu untuk mendongkrak ekonomi keluarga. Potensi ini juga belum maksimal dimanfaatkan warga. Usaha ternak ayam ras paling tinggi di desa  diikuti usaha ternak unggas lainnya, disusul usaha ternak sapi dan kambing.

d. Sumberdaya industri kerajinan rumah tangga unggulan dan pengolahan hasil hasil pertanian.   Potensi pengembangan industri rumah tangga masih sangat besar dan belum digali secara maksimal oleh warga.  Pengolahan hasil tanaman unggulan desa seperti buah kelapa menjadi minyak kelapa untuk minyak goreng dan minyak VCO, pengolahan buah pisang menjadi produk-produk sekunder, pengolahan biji kakao, pengolahan buah nanas, kerajinan membuat anyaman  handycraft (dari batok kelapa, kayu, perak) dan lainnya seperti anyaman bambu, garmen, katik sate, sapu lidi,  dan sebagainya, maka kegiatan  ini akan dapat menambah penambahan waktu produktif bagi warga untuk menghasilkan pendapatan.  Sebagaimana pepatah mengatakan ”waktu adalah uang” artinya semakin banyak waktu produktif akan semakin banyak menghasilkan pendapatan keluarga.  Bahan baku lokal jika diolah oleh warga maka waktu luang warga akan termanfaatkan untuk produksi dan produksi ini akan menghasilkan nilai tambah.  Teknologi tepat guna yang belum maksimal berkembang dalam upaya peningkatan nilai tambah di desa Asinan antara lain: pengolahan minyak kelapa, pengolahan arang kelapa, pengolahan hasil jagung menjadi produk sekunder, pengolahan hasil daging dan telur, pengolahan hasil bambu untuk berbagai keperluan, anyaman, menjahit/ industri garmen.

e. Sumberdaya alam berupa sungai.  Sungai yang mengalirkan air cukup stabil di tengah-tengah desa Nyuhtebel memiliki potensi besar untuk pengembangan usaha perikanan air tawar, usaha tanaman padi dan palawija di sawah irigasi teknis.  Potensi ini dapat berkembang sebagai pendukung sektor kepariwisataan desa, namun demikian Potensi ini belum banyak tergali untuk pembangunan ekonomi desa.

f. Sumber daya manusia.  Perkiraan penduduk desa Asinan tahun 2020 sekitar 2.866 jiwa.  Pada saat ini mata pencaharian penduduk desa Asinan dominan di sektor primer dan sekunder yaitu sebagai petani peternak,  buruh tani ternak dan buruh bangunan mencapai 68%; yang bekerja di sekotr tersier yaitu sektor swasta dan Pegawai negeri mencapai 32%.  Pada tahun-tahun mendatang akan terjadi transformasi dari sektor primer ke sektor tersier.  

g. Sumberdaya seni budaya menjadi potensial untuk dikembangkan bagi sektor pariwisata. 

h. Sumberdaya kelembagaan/organisasi sosial-ekonomi-budayatelah cukup banyak tumbuh dan berkembang seperti halnya kelompok masyarakat yang bergerak di sektor produksi dan jasa yaitu:  Pokmas, pokmas miskin, poktan, KWT, dan sejenisnya, gabungan kelompoktani (Gapoktan), Koperasi Wanita (Kopwan), UP2K, subak dan subak abian, dan sejenisnya.  Organisasi sosial ekonomi ini bergerak juga dalam bidang lembaga jasa keuangan mikro yang non formal yang sangat potensial mendorong pertumbuhan usaha mikro dan kecil.  Potensi Kelembagaan Sosial – Ekonomi – Budaya

i. Potensi Kelembagaan Sosial – Ekonomi – Budaya.    Masyarakat warga desa Asinan lebih menonjolkan semangat gotong royong dalam membangun kehidupan masyarakat yang sejahtera. Kegiatan gotong royong berlangsung lestari di desa ini dalam berbagai even (kejadian). Kegiatan Gotong Royong kebersihan desa dilakukan rutin setiap 35 hari.

Dalam membangun ekonomi desa, masyarakat warga juga melangsungkan gotong royong baik berupa gotong royong permodalan seperti koperasi, maupun gotong royong  perguliran pembiayaan seperti arisan dana dan barang.  Pola pembangunan ekonomi seperti ini akan melahirkan pemerataan ekonomi keluarga.  Oleh karenanya Kelompok Usaha Ekonomi Produktif (KUEP) telah tumbuh dan berkembang di desa ini sebagai bentuk turunan dari masyarakat gotong royong. KUEP yang telah tumbuh berkembang berjumlah 33 termasuk gabungan kelompok.  Adanya Penumbuhan dan pengembangan KUEP ini juga telah didukung oleh tumbuhnya lembaga keuangan desa yaitu: LPD, CBD, LKMA, BUMDes dan 5 Koperasi.  Keberadaan 33 KUEP yang didukung oleh keberadaan 9 lembaga keuangan dan koperasi, merupakan potensi yang sangat besar untuk menggerakkan perekonomian desa sehingga mampu menghasilkan pertumbuhan yang berkualitas dari tahun ke tahun yang pada ujungnya akan mampu mewujudkan kehidupan masyarakat desa maju, sejahtera dan madani.
 

SINERGITAS PROGRAM